Menjalar dalam Kerentanan: Kajian Batas Pengorganisasian Rimpang dalam Perlindungan Peserta Aksi pada Gerakan Mahasiswa di Yogyakarta

Main Article Content

Tecto Raditya Gillardino Saka

Abstract

Artikel ini mengkaji batas perlindungan peserta aksi dalam pengorganisasian rimpang pada gerakan mahasiswa di Yogyakarta, dengan perhatian pada keterlibatan mahasiswa Universitas Gadjah Mada pada paruh pertama 2026. Fokus analisis mencakup cara inisiatif aksi bergerak antarkelompok, peran penghubung dalam koordinasi, pengelolaan komunikasi publik, serta tekanan yang dialami peserta. Penelitian menggunakan studi kasus kualitatif eksploratif. Bahan kajian terdiri atas wawancara dengan seorang pengorganisasi aksi, tiga ilustrasi digital, dan pemberitaan sebagai konteks peristiwa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inisiatif yang datang dari beberapa kelompok tetap memerlukan penghubung untuk menjaga komunikasi dan menyelaraskan pelaksanaan. Pengorganisasi juga mengatur penyampaian pesan melalui jeda sebelum merespons, penggunaan saluran alternatif, dan penyederhanaan bahasa politik. Pada saat yang sama, ilustrasi digital menunjukkan persaingan pembingkaian yang menempatkan mahasiswa sebagai sasaran kritik, aparat sebagai penjaga ketertiban, dan gerakan sebagai pihak yang mengajukan tanggapan. Informan melaporkan gangguan terhadap akun serta menceritakan seorang peserta yang menarik diri setelah mengalami tekanan melalui keluarga. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kelancaran koordinasi dan komunikasi belum menjelaskan bagaimana peserta memperoleh dukungan ketika menghadapi tekanan. Artikel ini menunjukkan batas analitis pengorganisasian rimpang: konsep tersebut menjelaskan penyebaran inisiatif dan kerja penghubung, tetapi belum dengan sendirinya menerangkan perlindungan yang diterima individu. Kesimpulan dibatasi oleh penggunaan satu informan dan materi digital yang terbatas. Penelitian lebih lanjut perlu menelusuri pengalaman langsung peserta yang menghadapi tekanan serta bentuk dukungan yang diberikan organisasi.

Article Details

Section

Articles

How to Cite

Menjalar dalam Kerentanan: Kajian Batas Pengorganisasian Rimpang dalam Perlindungan Peserta Aksi pada Gerakan Mahasiswa di Yogyakarta. (2026). Relectio : Journal of Critical Governance and Legal Reform, 1(1), 35-47. https://journal.binaba.id/index.php/jhb/article/view/14

References

Bennett, W. L., & Segerberg, A. (2012). The logic of connective action: Digital media and the personalization of contentious politics. Information, Communication & Society, 15(5), 739–768. https://doi.org/10.1080/1369118X.2012.670661

Deleuze, G., & Guattari, F. (1987). A thousand plateaus: Capitalism and schizophrenia (B. Massumi, Trans.). University of Minnesota Press. (Original work published 1980)

Deng, Y., & O’Brien, K. J. (2013). Relational repression in China: Using social ties to demobilize protesters. The China Quarterly, 215, 533–552. https://doi.org/10.1017/S0305741013000714

Earl, J., Maher, T. V., & Pan, J. (2022). The digital repression of social movements, protest, and activism: A synthetic review. Science Advances, 8(10), Article eabl8198. https://doi.org/10.1126/sciadv.abl8198

Gerbaudo, P. (2017). Social media teams as digital vanguards: The question of leadership in the management of key Facebook and Twitter accounts of Occupy Wall Street, Indignados and UK Uncut. Information, Communication & Society, 20(2), 185–202. https://doi.org/10.1080/1369118X.2016.1161817

Kaiser, K. (2009). Protecting respondent confidentiality in qualitative research. Qualitative Health Research, 19(11), 1632–1641. https://doi.org/10.1177/1049732309350879

Nah, A. M., Bennett, K., Ingleton, D., & Savage, J. (2013). A research agenda for the protection of human rights defenders. Journal of Human Rights Practice, 5(3), 401–420. https://doi.org/10.1093/jhuman/hut026

Peña, A. M., Meier, L., & Nah, A. M. (2023). Exhaustion, adversity, and repression: Emotional attrition in high-risk activism. Perspectives on Politics, 21(1), 27–42. https://doi.org/10.1017/S1537592721003273

Sastramidjaja, Y. (2023). Rhizome vs regime: Southeast Asia’s digitally mediated youth movements (Trends in Southeast Asia, No. 6/2023). ISEAS–Yusof Ishak Institute. https://www.iseas.edu.sg/wp-content/uploads/2023/02/TRS6_23.pdf

Saunders, B., Kitzinger, J., & Kitzinger, C. (2015). Anonymising interview data: Challenges and compromise in practice. Qualitative Research, 15(5), 616–632. https://doi.org/10.1177/1468794114550439

Tufekci, Z. (2017). Twitter and tear gas: The power and fragility of networked protest. Yale University Press.